Rabu, 29 Februari 2012

BAHAN AJAR PENELITIAN TINDAKAN KELAS


BAHAN AJAR PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Dr. Ramalis Hakim, M.Pd
A. PENDAHULUAN
Pemahaman konsep tentang penelitian tindakan kelas ini penting untuk semua guru yang akan melaksanakan penelitian jenis ini. Banyak pengalaman membuktikan bahwa telah terjadi kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh peneliti yang semestinya tidak tepat atau tidak perlu diperbuat dalam penelitian tindakan kelas. Misalnya, ada peneliti memperlakukan penelitian ini seperti penelitian eksperimen yang dalam metodologinya terdapat pupulasi dan sampel, padahal tidak demikian pada penelitian tindak kelas yang hanya memerlukan kelas sebagai objek penelitian. Banyak lagi kekeliruan konsep yang terjadi dalam memahami penelitian tindakan kelas sebagai salah satu bentuk penelitian yang memiliki keunikan tersendiri.   
Penelitian tindakan kelas ini muncul dari pemikiran yang berkembang tentang persyaratan kemampuan guru oleh Proyek Pengembangan Pendidikan Guru (P3G) pada tahun 1980. Menurut P3G ada sepuluh kemampuan yang diperlukan bagi seorang guru yang profesional. Meskipun demikian, dijelaskan pula oleh P3G bahwa bukan hanya kemampuan profesional yang diperlukan bagi seorang guru yang sangat diidamkan, melainkan diperlukan juga kemampuan lain, yaitu kemampuan pribadi dan kemampuan sosial. Secara kese­luruh­an tiga kemampuan tersebut dikenal dengan sebutan: "Tiga Rum­pun Kom­petensi Guru", dan kemampuan yang terkait dengan profesi guru disebut "Sepuluh Kompetensi Profesional Guru".
Demikian pula dalam Standar Nasional Pendidikan (2005), sepuluh kompetensi tersebut disempurnakan menjadi empat kompetensi, yaitu (1) kepri­badi­an, (2) profesional, (3) kependidikan, dan (4) sosial. Penyem­­purnaan tersebut dilakukan karena dari pengamatan praktik sehari-hari terkesan bahwa dalam mengajar, guru cenderung mengutamakan mengajar secara mekanistis, dan agak melupakan tugas mendidik.
Di antara butir dari kompetensi profesional guru tersebut yang lang­sung terkait dengan kebutuhan para guru untuk promosi kenaikan pangkat dan jabatan mulai dari golongan 11a ke atas sesuai dengan yang lama adalah kompetensi profesional, yaitu kemampuan melaku­kan penelitian sederhana dalam rangka meningkatkan kualitas pro­fesional guru, khususnya kualitas pembelajaran.

B. PENGERTIAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
Sejak beberapa tahun belakangan ini, penelitian tindakan kelas dikenal dan ramai dibicarakan dalam dunia pendidikan. Sehubungan dengan penelitian jenis ini, banyak guru-guru telah disibukkan dengan berbagai kegiatan, mulai dari pelatihan, penataran, sampai pelaksana­an penelitian itu sendiri. sehubungan dengan  Istilah penelitian tindak­an kelas yang dalam dalam bahasa Inggris disebut dengan Classroom Action Research (CAR). Dari namanya sudah menunjukkan isi yang terkandung di dalamnya, yaitu sebuah kegiatan penelitian yang dilaku­kan di kelas. Dikarenakan ada tiga kata yang membentuk pengertian tersebut, maka ada tiga pengertian yang dapat diterangkan. Pertama: Kata penelitian - menunjuk pada suatu kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu un­tuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam mening katkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti. Kedua: Kata tindakan - menunjuk pada sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan untuk siswa. Dan kata kelas - dalam hal ini tidak terikat pada pengertian ruang kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik. Seperti yang sudah lama dikenal dalam bidang pendidikan dan pengajaran, yang dimaksud dengan istilah kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula.
          Memang menurut pengertian lama, tetapi salah, kelas adalah sebuah ruangan tempat guru mengajar dan untuk siswa yang sedang belajar. Untuk melumpuhkan pengertian yang salah dan dipahami secara luas oleh umum dengan "ruangan tempat guru mengajar" tersebut, perlu ada penjelasan yang lebih rinci.
          Menurut pengertian pengajaran, kelas bukan wujud ruangan, tetapi sekelompok peserta didik yang sedang belajar. Dengan demi­kian, pene­litian tindakan kelas dapat dilakukan tidak hanya di ruang kelas, tetapi di mana saja tempatnya, yang penting ada sekelompok anak yang sedang belajar. Peristiwanya dapat terjadi di laboratorium, di perpustakaan, di lapangan olahraga, di tempat kunjungan, atau di tempat lain, yaitu tempat di mana siswa sedang berkerumun belajar tentang hal yang sama, dari seorang guru atau fasilitator yang sama. Ciri bahwa anak sedang dalam keadaan belajar adalah otaknya aktif berpikir, mencerna bahan yang sedang dipelajari. Jangan sampai guru terkecoh, kelihatannya anak duduk manis, tetapi perhatiannya ke lain tempat. Oleh karena itu, sekali-sekali guru harus mengadakan pengecekan, apakah siswa melamun, bermain, atau berpikir mengikuti pelajaran.
          Ketiga kata inti tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap ke giatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Tindak­an tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa. Kesa­lahan umum yang terdapat dalam penelitian tindakan guru adalah penonjolan tindakan yang dilakukan­nya sendiri, misalnya guru mem­berikan tugas kelompok kepada siswa. Pengutara­an kalimat seperti itu kurang pas. Seharusnya guru menon­jolkan kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa, misalnya siswa mengamati proses mencairnya es yang ditem­patkan di panci tertutup dan panci terbuka, atau di dalam gelas. Siswa juga diminta membandingkan dan mencatat hasilnya. Dengan kata lain, guru melaporkan berlang­sungnya proses belajar yang dialami oleh siswa, perilakunya, perhati­an mereka pada proses yang terjadi, mengamati hasil dari proses, mengadakan pencatatan hasil, mendiskusikan dengan teman kelompoknya, melaporkan di depan kelas, dan sebagai­nya. Sekali lagi, yang dikemukakan oleh guru dalam menulis­kan lapor­an penelitian tindakan adalah hal-hal yang dilakukan oleh siswa, bukan yang dilakukan oleh guru.
Kata kelas yang kemudian membentuk istilah Penelitian Tifadakan Kelas memang berasal dari barat yang dikenal dengan istilah Classroom Action Research (CAR). Di Indonesia disebut Penelitian Tindakan Kelas, (PTK). Sebetulnya dalam penulisan karya tulis ilmiah pengertiannya tidak sesempit itu. Oleh karena itu, dalam pembicaraan PTK ini kita pahami bukan penelitian tindakan kelas, tetapi penelitian tindakan saja. Dengan demikian, tindakan yang diberikan bukan hanya dapat dilakukan oleh guru, tetapi juga oleh Kepala Sekolah, Pengawas, bahkan siapa saja yang berniat melakukan tindakan dalam rangka perbaikan hasil kerjanya. Kepala Sekolah yang statusnya guru dengan tambahan tugas, masih mempunyai tugas mengajar sehingga dapat melakukan PTK karena mempunyai kelas.
Sesuai dengan beberapa tugasnya, selain melakukan tindakan di kelas, Kepala Sekolah pun dapat melakukan tindakan kepada guru, staf tata usaha, atau apa saja yang berkaitan dengan tugasnya, antara lain perpustakaan, lingkungan sekolah, dan hubungan antara sekolah dengan pihak lain di luar sekolah.
Penelitian ini tidak disebut sebagai PTK, tetapi mungkin Pene­litian Tindakan (PT) saja. Sebutan seperti ini lebih enak didengar dan dilaku­kan karena tidak dibatasi dengan kelas, dan bukan hanya cocok untuk guru. Barangkali penelitian tindakan yang sangat perlu dilaku­kan oleh Kepala Sekolah saat ini adalah membenahi situasi dan iklim sekolah.
Bukan rahasia lagi bahwa kebanyakan kamar kecil di sekolah kurang mendapatkan perhatian. Jumlah kamar kecil yang tidak men­cukupi kebutuhan, persediaan air yang juga kurang, mau tidak mau berakibat pada bau yang tidak sedap, mengganggu ketenangan belajar siswa, dan tentu saja hasil belajar mereka tidak maksimal. Coba kita amati bersama, mana sajakah kamar kecil sekolah yang sudah bersih?
Bagi Pengawas, melakukan penelitian tindakan kelas sudah tidak tepat lagi karena tidak mempunyai tugas mengajar. Apabila Pengawas ingin memberikan pembinaan kepada guru tentang bagai­mana cara me ngajar yang baik, dapat membuat rencana penelitian tindakan kelas, tetapi yang melaksanakan guru-guru yang sedang dibina. Ketika guru melak­sanakan mengajar, Pengawas memerhatikan dan mencatat hal-hal yang terjadi, sebagai bahan untuk memberikan masukan.
Sebaiknya Pengawas yang ingin melakukan pembinaan seperti ini, bukan hanya untuk seorang guru saja, tetapi beberapa orang dikumpul­kan, diajak menyusun perencanaan bersama-sama. Ketika salah seorang melaksanakannya di kelas, guru-guru yang lain meng­amati dan mencatat proses pembelajaran tersebut untuk dibicarakan dalam langkah berikut­nya, yaitu refleksi. Hal yang penting di sini adalah Pengawas tidak mengajar, tetapi memberi contoh se­perlunya, lalu guru-guru lah yang melanjutkan mengajar, Pengawas mengamati dan membenahi bagian yang belum baik.

C. PRINSIP PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Agar peneliti memperoleh informasi atau kejelasan yang lebih baik tentang penelitian tindakan, perlu kiranya dipahami bersama prinsip­prinsip yang harus dipenuhi apabila berminat dan akan melakukan penelitian tindakan kelas. Dengan memahami prinsip-prinsip dan mampu menerapkannya, kiranya apa yang dilakukan dapat berhasil dengan baik. Adapun prinsip-prinsip dimaksud adalah sebagai berikut.
1.  Merupakan Kegiatan Nyata dalam Situasi Rutin
Penelitian tindakan dilakukan oleh peneliti tanpa mengubah situasi rutin. Mengapa? Jika penelitian dilakukan dalam situasi lain, hasilnya tidak dijamin dapat dilaksanakan lagi dalam situasi aslinya, atau dengan kata lain penelitiannya tidak dalam situasi wajar. Oleh karena itu, pe­nelitian tindakan tidak perlu mengadakan waktu khusus, tidak mengubah jadwal yang sudah ada. Dengan demikian, apabila guru akan melakukan beberapa kali penelitian tindakan, tidak menimbulkan kerepotan bagi Kepala Sekolah dalam mengelola sekolahnya.
Dengan adanya ketentuan ini maka hal yang dilaksanakan dalam penelitian tindakan harus yang terkait dengan profesi guru, jika dilakukan oleh guru; terkait dengan tugas Kepala Sekolah, jika dilakukan oleh Kepala Sekolah; atau terkait dengan Pengawas, jika dilakukan oleh Pengawas. Bagi guru yang profesinya mengajar, tindakan yang terkait dan cocok untuk dilakukan harus menyangkut pembelajaran, sedangkan untuk Kepala Sekolah dan Pengawas harus menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan profesinya, yaitu bidang pendidikan yang bukan pem­belajaran di kelas.
2. Adanya Kesadaran Diri untuk Memperbaiki Kinerja
Penelitian tindakan didasarkan atas sebuah filosofi bahwa setiap manusia tidak suka atas hal-hal yang statis, tetapi selalu menginginkan sesuatu yang lebih baik. Peningkatan diri untuk hal yang lebih baik ini dilakukan terus-menerus sampai tujuan tercapai, tetapi sifatnya hanya sementara, karena dilanjutkan lagi dengan keinginan untuk lebih baik yang datang susul-menyusul. Dengan kata lain, penelitian tindakan dilakukan bukan karena ada paksaan permintaan dari pihak lain, tetapi harus atas dasar sukarela, senang hati, karena me­nunggu hasilnya yang diharapkan lebih baik dari hasil yang lalu, dan dirasakan belum memuaskan sehingga perlu ditiargkatkan. Guru melakukan pene­litian tindakan karena telah menyadari adanya kekurangan pada dirinya, artinya pada kinerja yang dilakukan, dan sesudah itu tentunya ingin melakukan perbaikan.
Berdasarkan uraian tersebut, berarti penelitian tindakan sifatnya bukan menyangkut hal-hal statis, tetapi dinamis, yaitu adanya peru­bahan. Penelitian tindakan bukan menyangkut materi atau topik pokok bahasan itu sendiri, tetapi menyangkut penyajian topik pokok bahasan yang bersangkutan, yaitu strategi, pendekatan, metode atau cara untuk mem­peroleh hasil melalui sebuah kegiatan uji coba atau eksperimen.
Berbeda dengan eksperimen biasa, karena eksperimen biasa meng­gunakan kelompok kontrol, sedangkan penelitian tindakan tidak demi­kian. Dalam penelitian tindakan ini cara tersebut dicobakan ber­ulang ulang sampai memperoleh informasi yang mantap tentang pelaksanaan metode atau cara itu. Dengan sifatnya yang berulang-ulang dan terus­menerus itulah, maka penelitian tindakan dapat disebut sebagai penelitian eksperimen berkesinambungan.
3.  Menggunakan Analisis SWOT sebagai Dasar Berpijak
Penelitian tindakan harus dimulai dengan melakukan analisis SWOT, terdiri atas unsur-unsur S-Strength (kekuatan), W-Weaknesses (kelemahan), O-Opportunity (kesempatan), T-Threat (ancarnan). Empat hal tersebut dilihat dari sudut guru yang melaksanakan mau­pun siswa yang dikenai tindakan. Dengan berpijak pada hal tersebut, penelitian tindakan dapat dilaksanakan hanya apabila ada kesejalanan antara kondisi yang ada pada guru dan juga pada siswa. Tentu saja pekerjaan guru sebelum menentukan jenis tindakan yang akan dicobakan, memerlukan pemikiran yang matang.
Kekuatan (strength) dan kelemahan (weaknesses) yang ada pada diri peneliti dan subjek tindakan diidentifikasi sccara cennat sebelum mengidentifikasi yang lain. Dua unsur yang lain, yaitu kesempatan (opportunity) dan ancaman (threat), diidentifikasi dari yang ada di luar diri guru atau peneliti dan juga di luar diri s'rswa atau subjek yang uikenai tindakan. Dalam memilih sebuah tindakan yang akan dicoba, peneliti harus mempertimbangkan apakah ada sesuatu di luar diri dan subjek tindakan yang kiranya dapat dimanfaatkan, juga sebaliknya berpikir tentang "bahaya" di luar diri dan subjeknya sehingga dapat men­datangkan risiko. Hal ini terkait dengan prinsip pertama, bahwa penelitian tindakan tidak boleh mengubah situasi asli, yang biasanya tidak mengundang risiko.

4.   Merupakan Upaya Empiris dan Sistemik
Prinsip keempat ini merupakan penerapan dari prinsip ketiga. Dengan telah dilakukannya analisis SWOT, tentu saja apabila guru mela­kukan penelitian tindakan, berarti sudah mengikuti prinsip empiris (ter kait dengan pengalaman) dan sistemik, berpijak pada unsur-unsur yang terkait dengan keseluruhan sistem yang terkait dengan objek yang sedang digarap. Pembelajaran adalah sebuah sistem, yang keter­laksanaannya didukung oleh unsur-unsur yang kait-mengait. Jika guru mengupayakan cara mengajar baru, harus juga memikirkan tentang sarana pendukung yang berbeda, mengubah jadwal pelajaran, dan hal-hal lain yang terkait dengan cara baru yang diusulkan tersebut.
5. Menganut Prinsip Cerdas dalam Perencanaan
Cerdas dalam bahasa Inggris adalah SMART yang artinya cerdas. Akan tetapi, dalam proses perencanaan kegiatan merupakan singkatan dari lima huruf bermakna. Adapun makna dari masing-masing huruf adalah sebagai berikut:  S - Specific, khusus, tidak terlalu umum; M  - Managable, dapat dikelola, dilaksanakan; A  - Acceptable, dapat diterima lingkungan, atau  Achievable, dapat dicapai, dijangkau; R  - Realistic, operasional, tidak di luar jangkauan; dan T  - Time-bound, diikat oleh waktu, terencana.
          Ketika guru menyusun rencana tindakan, harus mengingat hal-hal yang disebutkan dalam SMART. Tindakan yang dipilih peneliti harus: 1) Khusus spesifik, tidak terlalu luas misalnya melakukan penelitian untuk pelajaran bahasa (Indonesia, Inggris, atau yang lain), tetapi hanya satu aspek saja, misalnya aspek berbicara, aspek mem­baca, aspek mendengarkan, atau aspek menulis. Dengan demikian, langkah dan hasilnya dapat jelas karena spesifik. 2) Mudah dilakukan, tidak sulit atau berbelit, misalnya kesulitan dalam mencari lokasi, mengumpulkan hasil, mengoreksi, dan kesulitan bentuk lain. 3) Dapat diterima oleh subjek yang dikenai tindakan, artinya siswa tidak mengeluh gara-gara guru memberikan tindakan, dan juga lingkungan tidak terganggu karenanya. 4) Tidak menyimpang dari kenyataan dan jelas bermanfaat bagi dirinya dan subjek yang dikenai tindakan. 5) Tindakan tersebut sudah tertentu jangka waktunya, yaitu kapan dapat dilihat hasilnya. Batasan waktu ini penting agar guru menge­tahui betul hasil yang diberikan kepada siswa, dan lain kali kalau akan diulang, rencana pelaksanaannya sudah jelas. Sebagai contoh, sebuah pene­litian tindakan dapat direncanakan dalam waktu satu bulan, satu semester, atau satu tahun.
Di antara unsur dalam SMART, unsur yang sangat penting karena terkait dengan subjek yang dikenai tindakan adalah unsur ketiga, yaitu A: Acceptable, dapat diterima oleh subjek yang akan diminta melakukan sesuatu oleh guru. Oleh karena itu, sebelum guru menentukan lebih lanjut tentang tindakan yang akan diberikan, mereka harus diajak bicara. Tin­dakan yang akan diberikan oleh guru dan akan mereka lakukan harus disepakati dengan suka rela. Dengan demikian, guru dapat mengharapkan tindakan yang dilakukan oleh siswa dilandasi atas kesadaran dan kemauan penuh. Dampak dari kemauan penuh itu menghasilkan semangat atau kegairahan yang tinggi.

D. KARAKTERISTIK PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Ada beberapa karakteristik penelitian tindakan kelas yang dapat membedakan jenis penelitian ini dengan jenis penelitian yang lain:
1. An Inquiry On Practice From Within
Karakteristik pertama dari PTK adalah bahwa kegiatannya dipicu oleh permasalahan praktis yang dihayati guru dalam pembelajaran di kelas. Oleh sebab itu PTK bersifat practice driven dan Action driven, dalam arti PTK berujuan memperbaiki scara praktis, langsung – di sini, sekarang atau sering disebut dengan penelitian praktis (practical inquiry). Hal ini berarti PTK memusatkan perhatian pada permasalahan spesifik konstekstual.

2.  A Collaborative Effort Between School Teachers and Teacher Educators.
Karena dosen LPTK tidak memiliki akses langsung, maka PTK diselenggarakan secara colaboratif dengan guru yang kelasnya menjadi kancah PTK. Karena yang memiliki kancah adalah guru sehingga para dosen LPTK yang berminat melakukan PTK tidak memiliki akses kepada kancah dalam peran sebagai praktisi. Oleh sebab itu ciri kolaboratif harus secara konsisten tertampilkan sebagai kerja sama kesejawatan dalam keseluruhan tahapan penyelenggaraan PTK, mulai dari identifikasi permasalahan, serta diagnosis keadaan, perancangan tindakan perbaikan, sampai dengan pengumpulan dan analisis data serta reflektisi mengenai temuan di samping dalam penyusunan laporan.

3.  Reflective Practice Made Public.
Keterlibatan dosen LPTK dalam PTK bukanlah sebagai ahli pen­didikan yang tengah mengemban fungsi sebagai pembina guru sekolah menengah atau sebagai pengembang pendidikan (missionary approach), melainkan sebagai sejawat, di samping sebagai pendidik calon guru yang seyogyanya memiliki kebutuhan untuk belajar dalam rangka mengakrabi lapangan demi peningkatan mutu kinerjanya sendiri. Dalam hubungan ini guru yang berkolaborasi dalam PTK harus mengemban peran ganda sebagai praktisi yang dalam pelaksanaan penuh keseharian tugas-tugas­nya juga sekaligus secara sistematis meneliti praksisnya sendiri. Apabila ini terlksana dengan baik maka akan terbina kultur meneliti dikalangan guru, dan merupakan suatu langkah strategis dalam profisionalisme jabatan guru. Hal ini pelecehan profesi dalam bentuk penyedia jasa borongan utuk membuatkan daftar angka kridit dalam proses kenaikan pangkat fungsional guru yang menggejala akhir-akhir ini dapat diakhiri.


E. MODEL PENELITIAN TINDAKAN
Hal lain yang sangat penting dipahami oleh sipeneliti sebelum melaksanakan penelitian tindakan kelas adalah tentang model penelitian yang juga berbeda dengan penelitian lainnya. Perbedaan itu tampak pada tahap-tahap yang dilalui, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Adapun model dan penjelasan untuk masing-masing tahap adalah sebagai berikut.
Tahap (1) penelitian tindakan kelas adalah Menyusun rancangan (planning) tindakan. Dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Penelitian tindakan yang ideal sebetulnya dilakukan secara berpasangan antara pihak yang melakukan tindakan dan pihak yang mengamati pro­ses jalannya tindakan. Istilah untuk cara ini adalah penelitian kolaborasi. Cara ini dikatakan ideal karena adanya upaya untuk mengurangi unsur subjektivitas pengamat serta mutu kecermatan amatan yang dilakukan. Dengan mudah dapat diterima bahwa pengamatan yang diarahkan pada diri sendiri biasanya kurang teliti dibanding dengan pengamatan yang dilakukan terhadap hal-hal yang berada di luar diri, karena adanya unsur subjektivitas yang berpengaruh, yaitu cenderung mengunggulkan dirinya. Apabila pengamatan dilakukan oleh orang lain, pengamatannya lebih cermat clan hasilnya akan lebih objektif.
Penelitian kolaborasi ini sangat disarankan kepada para guru yang belum pernah atau masih jarang melakukan penelitian. Meskipun dilakukan bersama, karena kelasnya berbeda, dan tentu saja peris­tiwa­nya berbeda, hasilnya pasti berbeda. Jika hasilnya dilaporkan sebagai karya tulis ilmiah bentuk laporan penelitian, masing-masing guru akan mendapat nilai sama, yaitu 4,0. Dalam hal ini guru tidak perlu ragu, takut nilainya dibagi 2 seperti kalau menulis bersama atau melakukan penelitian kelompok. Dalam penelitian tindakan, masing-masing berdiri sebagai peneliti meskipun ketika menyusun rencana dilakukan bersama­sama. Dengan demikian, penelitian tindakan yang baik adalah apabila dapat diusahakan sebagai berikut.
Dalam penelitian kolaborasi, pihak yang melakukan tindakan adalah guru itu sendiri, sedangkan yang diminta melakukan pengamat­an terhadap berlangsungnya proses tindakan adalah peneliti, bukan guru yang sedang melakukan tindakan. Kolaborasi juga dapat dilakukan oleh dua orang guru, yang dengan cara bergantian mengamati. Ketika sedang mengajar, dia adalah seorang guru; ketika sedang mengamati, dia adalah seorang peneliti.
Ungkapan yang dikemukakan dalam kotak tersebut adalah aturan atau prinsip untuk salah satu bentuk penelitian tindakan. Bentuk lainnya adalah peneliti melakukan pengamatan sendiri terhadap dnri sendiri ketika sedang melakukan tindakan. Apabila menerapkan bentuk kedua ini, pene­liti harus mampu melakukan apa yang disebut ngrogoh suknao (bahasa Jawa), yaitu mengeluarkan jiwa dari badan sementara waktu untuk mengamati secara objektif apa yang sedang terjadi pada dirinya ketika itu. (Tentu pengertian ini mudah terbantah karena mana ada kegiatan ragawi yang tidak disertai dengan jiwa atau rohani). Penjelasan ini digunakan sebagai pengibaratan saja, sekadar untuk mempermudah pemahaman. Mak­sud penjelasan tersebut adalah meskipun terjadi pada diri sendiri, peneliti yang sekaligus pengamat tersebut diharapkan mampu melakukan pengamatan terhadap diri secara objektif agar kelemahan yang terjadi dapat terlihat dengan wajar, tidak harus ditutup-tutupi.
Dalam tahap menyusun rancangan ini peneliti menentukan titik atau fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrumen pengamatan untuk membantu peneliti merekam fakta yang terjadi selama tindakan berlang­sung. Jika yang digunakan dalam penelitian ini bentuk terpisah maka peneliti dan pelaksana harus melakukan kesepakatan antara keduanya. Dikarenakan pelaksana guru peneliti adalah pihak yang paling berkepen­tingan untuk meningkatkan kinerja, maka pemilihan strategi pembelajaran disesuaikan dengan selera dan kepentingan guru peneliti, agar pelaksana­an tindakan dapat terjadi secara wajar, realistis, dan dapat dikelola dengan mudah.
Tahap ke-2 dari penelitian tindakan adalah pelaksanaan (Acting) yang merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengena­kan tindakan di kelas. Hal yang perlu diingat adalah bahwa dalam tahap ke-2 ini pelaksana guru harus ingat dan berusaha menaati apa yang sudah dirumuskan dalam rancangan, tetapi harus pula berlaku wajar, tidak dibuat-buat. Dalam refleksi, keterkaitan antara pelaksanaan dengan perencanaan perlu diperhatikan secara saksama agar sinkron dengan maksud semula. Ketika mengajukan laporan penelitiannya, peneliti tidak melaporkan seperti apa perencanaan yang dibuat karena langsung melaporkan pelaksanaan. Oleh karena itu, bentuk dan isi laporannya harus sudah lengkap menggambarkan semua kegiatan yang dilakukan, mulai dari persiapan sampai penyelesaian. Banyak di antara karya tulis yang diajukan oleh guru tidak dapat dinilai atau diterima oleh tim penilai karena isi laporannya tidak lengkap. Pada umumnya penulis merasa sudah menjelaskan tahapan metode yang dilaksanakan dalam tindakan, padahal baru disinggung dalam kajian pustaka saja, dan belum dijelaskan secara rinci bagaimana keterlaksanaannya ketika tindakan terjadi.
Tahap ke-3, yaitu kegiatan pengamatan (Observing) yang dilakukan oleh pengamat. Sebetulnya sedikit kurang tepat kalau pengamatan ini di­pisahkan dengan pelaksanaan tindakan karena seharusnya pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang dilakukan. Jadi, keduanya berlangsung dalam waktu yang sama. Sebutan tahap ke-2 diberikan untuk memberikan peluang kepada guru pelaksana yang juga berstatus sebagai pengamat. Ketika guru tersebut sedang melakukan tindakan, karena hatinya menyatu dengan kegiatan, tentu tidak sempat menganalisis peristiwanya ketika sedang terjadi. Oleh karena itu, kepada guru pelaksana yang berstatus sebagai pengamat agar melakukan "pengamat­an balik" terhadap apa yang terjadi ketika tindakan berlang­sung. Sambil melakukan pengamatan balik ini, guru pelaksana mencatat sedikit demi sedikit apa yang terjadi agar memperoleh data yang akurat untuk perbaikan siklus berikutnya.
Tahap ke-4 merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali (Reflecting) apa yang sudah dilakukan. Istilah refleksi berasal dari kata bahasa Inggris reflection, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia pemantulan. Kegiatan refleksi ini sangat tepat dilakukan ketika guru pe­laksana sudah selesai melakukan tindakan, kemudian berhadapan dengan peneliti untuk mendiskusikan implementasi rancangan tindakan. Istilah refleksi di sini sama dengan "memantul, seperti halnya memancar dan menatap kena kaca." Dalam hal ini, guru pelaksana sedang memantulkan pengulaman­nya pada peneliti yang baru saja mengamati kegiatannya dalam tindakan. Inilah inti dari penelitian tindakan, yaitu ketika guru pelaku tindakan siap mengatakan kepada peneliti pengamat tentang hal-hal yang dirasakan sudah berjalan baik dan bagian mana yang belum.
Jika penelitian tindakan dilakukan melalui beberapa siklus, maka dalam refleksi terakhir, peneliti menyampaikan rencana yang disarankan kepada peneliti lain apabila dia menghentikan kegiatannya, atau kepada diri sendiri apabila akan melanjutkan dalam kesempatan lain. Catatan­catatan penting yang dibuat sebaiknya rinci sehingga siapa pun yang akan melaksanakan dalam kesempatan lain tidak akan menjumpai kesulitan.
Ada empat tahapan penting dalam penelitian tindakan, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Ke­empat tahap dalam penelitian tindakan tersebut adalah unsur untuk membentuk sebuah siklus, yaitu satu putaran kegiatan beruntun, yang kembali ke langkah semula. Jadi, satu siklus adalah dari tahap penyu­sunan rancangan sampai dengan refleksi, yang tidak lain adalah evaluasi. Apabila dikaitkan dengan "bentuk tindakan" sebagaimana disebutkan dalam uraian ini, maka yang dimaksud dengan bentuk tindakan adalah siklus tersebut. Jadi, bentuk penelitian tindakan tidak pernah merupakan kegiatan tunggal, tetapi selalu harus berupa rangkaian kegiatan yang akan kembali ke asal, yaitu dalam bentuk siklus. Sebagai contoh, tindakan untuk mengajarkan topik "Peta Pulau Jawa" itu sudah tertentu materinya, jadi hanya berlangsung satu kali putaran. Lain lagi
F. PENDEKATAN PENELITIAN PSR
Bagaimana proses penelitian (observasi, deskripsi, analisis, explanasi)  dilakukan tergantung sifat data dan tujuan penelitian.  Kegiatan penelitian yang bertujuan untuk memahami pola, sistem, aturan, atau hubungan antar variabel yang ada pada objek penelitian, dengan data yang bersifat kuantitatif, seperti pada contoh (hubungan antara prestasi belajar Seni Rupa  siswa SLTP dengan jenis kelamin) di atas, bisa dilakukan dalam satu kali putaran/siklus (mengobsevasi, mendeskripsikan, menganalisis, dan akhirnya menyimpulkan).
Dalam penelitian kualitatif, (penelitian yang datanya tidak direpresentasikan dengan angka atau tidak dikuantifikasi, seperti penelitian tentang perkembangan pola kalimat Seni Rupa siswa SLTP dari kelas satu, kelas dua, dan kelas tiga, dalam mengarang, misalnya) kegitan penelitian tidak dihasilkan dari satu kali kegiatan pengumpulan data, satu kali kegiatan analisis data, dan kemudian disimpulkan.  Kegiatan observasi, deskripsi, analisis, dan eksplanasi dilakukan berulang-ulang, sehingga kesimpulan yang diambil merupakan hasil bertahap dari yang sementara sampai ke hasil akhir dari beberapa kali kegiatan  pengumpulan data, dan analisis data.yang berlangsung secara circulair.  Kegiatan pengumpulan data (tahap I) langsung diikuti kegiatan analisis data (tahap I) yang menghasilkan simpulan sementara (hypothesis I).  Hipotesis I adalah simpulan sementara yang perlu dikonfirmasi dengan melakukan kegiatan pengumpulan data lagi (tahap II), dan analisis data (tahap II),  sehingga menghasilkan hipoptesis II. yang memperkuat (memverifikasi, menambah, atau bahkan menolak) hipotesis I. Apabila dari dua hypothesis tersebut kesimpulan belum bisa diambil secara meyakinkan, maka  kegiatan pengumpulan data dan analisis data pada tahap III perlu dilakukan lagi. Demikian seterusnya sampai dihasilkan temuan yang bisa diyakini kebenarannya. Pada saat itulah hipotesis (setelah mengalami revisi beberapa kali melalui beberapa siklus) menjadi temuan penelitian.
Penelitian yang bertujuan untuk menemukan cara, strategi, atau prosedur yang tepat untuk memecahkan suatu masalah pembelajaran bahasa perlu juga dilakukan dalam beberapa siklus. Setiap siklus diikuti siklus berikutnya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik sesuai dengan criteria (hasil) yang diinginkan. Kegiatan penelitian seperti ini disebut Penelitian Tindakan Kelas.

G. PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
Penelitian Tindakan Kelas merupakan media untuk peningkatan kemampu­an professional guru dan untuk peningkatan keberhasilan belajar siswa. Dalam PTK, guru melakukan evaluasi terhadap kegiatan mengajarnya dan kemudian melakukan perbaikan atas dasar hasil evaluasi tersebut.  Seringkali perubahan strategi pembelajaran yang ditemukan oleh guru lebih mudah menyebar kepada guru-guru lain (bottom up) dibanding dengan perubahan yang ditawarkan oleh atasan (top down). Kegiatan PTK dimulai dari kebiasaan guru untuk peduli terhadap keberhasilan kegiatan mengajarnya, atau peduli terhadap hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan belajar siswanya, perilaku, interaksi sosial, kesulitan belajar, dan lingkungan belajar para siswanya yang kemudian dia evaluasi untuk pertimbangan dalam menyusun perencanaan tindakan perbaikan, pelaksanaan tindakan perbaikan, dan evaluasi tindakan perbaikan (Borgia, Schuler, 2003).
 Penelitian tindakan kelas Pembelajaran Seni Rupa (PSR) adalah penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan (berusaha menemukan) strategi PSR yang bisa membantu siswa secara tepat sehingga siswa bisa menguasai Seni Rupa.  Setiap siswa di kelas pada dasarnya bisa menguasai Seni Rupa (tidak ada satupun siswa yang tidak bisa menguasai Seni Rupa di kelas) asal mendapat bimbingan dengan strategi yang tepat.  Ketidak berhasilan siswa dalam mempelajari Seni Rupa adalah kegagalan guru dalam memberikan bimbingan belajar Seni Rupa secara tepat dan optimal.  Ketidak berhasilan siswa dalam mempelajari Seni Rupa yang disebabkan oleh tidak tepatnya dan tidak optimalnya bimbingan yang diberikan guru itulah yang menjadi masalah guru dalam tugasnya mengajar Seni Rupa di kelas. Setiap guru Seni Rupa selalu memiliki masalah pembelajaran semacam ini.  Dan setiap guru Seni Rupa tentu harus selalu berupaya memecahkan masalah yang dihadapinya.  Pemecahan masalah pembelajaran Seni Rupa adalah bagian dari tugas profesi setiap guru Seni Rupa. Upaya pemecahan masalah ini bisa dilakukan dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Kegiatan PTK Seni Rupa dilakukan dengan beberapa siklus.  Hasil dari satu siklus (karena biasanya belum mencapai target yang diinginkan) disempurnakan pada siklus berikutnya, dan begitu seterusnya sampai ditemukan strategi yang tepat untuk membantu belajar siswa (sehingga siswa bisa berhasil menguasai Seni Rupa dengan rasa senang).  Setiap siklus PTK terdiri dari Perencanaan, Implementasi, Pengamatan, dan Refleksi. Hasil dari Refleksi menjadi masukan pada perencanaan kembali untuk siklus berikutnya (Kemmis & McTaggert, 1988)  Lihat Figure 1














Figure 1
The Action Research Spiral


Oval: Thematic Concern (Pengamatan Terhadap Situasi Pembelajaran
 


         


                                                                   Reconnaissance
                                                                   (Evaluasi terhadap
                                                                    situasi pembelajaran)


 


                                                Reflection



                   Observation                                         Plan








 



                                                Action


                                                     Reflection



                             Observation                             Revised Plan








 



                                                          Action


                                                                                       Revised Plan


 


Kemmis, S., McTaggert, R. (1988)

PTK Seni Rupa berbeda dengan penelitian eksperimental. Dalam PTK Seni Rupa, tujuan penelitian adalah pengembangan strategi atau teknik pembelajaran Seni Rupa yang selama ini belum dikembangkan oleh peneliti lain. Dalam penelitian eksperimental, tujuan penelitian adalah membandingkan di antara strategi atau teknik yang sudah ada (atau yang sudah dikembangkan orang lain) untuk menemukan mana di antara strategi atau teknik tersebut yang paling efektif. Jadi penelitian eksperimental bertujuan membandingkan antar strategi atau antar teknik yang sudah mapan, sedangkan PTK mengembangkan suatu strategi atau suatu teknik yang belum ada atau belum dikembangkan.

1. Perencanaan

Perencanaan adalah kegiatan perancangan untuk pemecahan masalah.  Perencanaan untuk PTK dibuat atas dasar (1) masalah pembelajaran yang telah diidentifikasi oleh guru Seni Rupa (misalnya, siswa tidak berhasil belajar menulis karangan dalam Seni Rupa) dan (2) Strategi yang telah dipilih untuk memecahkan masalah tersebut (misalnya, dengan menggunakan strategi wisata).  PTK bertujuan memecahkan masalah dengan mengembangkan strategi tertentu. Pemecahan masalah dan pengembangan strategi tertentu inilah yang menjadi target PTK.  Untuk itu masalah yang sedang diupayakan untuk dipecahkan harus didefinisikan dengan jelas dan strategi yang akan dikembangkan juga harus diuraikan dengan jelas. Strategi yang akan dikembangkan bukan sesuatu yang masih dicari-cari, tetapi sesuatu yang secara teoritis sudah pasti (misalnya, strategi Wisata untuk meningkatkan kemampuan apresiasi Seni Rupa).  Strategi ini harus dijelaskan dalam bentuk langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang jelas.  Kriteria (indikator yang menjadi penanda) untuk menentukan bahwa strtagei yang dikembangkan telah berhasil memecahkan masalah yang sedang diupayakan pemecahannya harus diidentifikasi dengan jelas pada tahap perencanaan.

2. Kriteria Keberhasilan PTK

Keberhasilan PTK tidak hanya ditandai oleh meningkatnya kemampuan atau hasil belajar siswa yang ditandai dengan nilai perolehan dari tes yang diberikan dalam proses PTK. Sebuah strategi atau teknik yang dikembangkan melalui PTK walaupun telah terbukti berhasil meningkatkan kemampuasn siswa (nilai meningkat), tetapi kalau strategi atau teknik tersebut, misalnya, terlalu rumit pelaksanaannya, mahal atau membutuhkan alat-alat bantu yang sulit disiapkan, tidak praktis, siswa tidak merasa senang mengikuti proses pembelajarannya, proses pembelajaran tidak mendorong siswa untuk bekerja sama, dan sebagainya, maka strategi atau teknik tersebut belum bisa dikatakan berhasil. Guru lain akan sulit menerima untuk mengetrapkan strategi atau teknik tersebut dalam kegiatan mengajarnya. Dengan kata lain, semakin bisa diterima sebuah strategi atau teknik PSR oleh guru lain, atau semakin tinggi nilai jual strategi atau teknik tersebut, semakin tinggi pula kualitas atau nilai keberhasilan PTK yang menghasilkan strategi atau teknik tersebut. Jadi kriteria keberhasilan PTK dalam mengembangkan sebuah strategi atau teknik PSR tidak hanya meliputi nilai hasil tes, tetapi juga harus meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses PSR.

3. Implementasi

Implementasi adalah tahap pelaksanaan dari rancangan pembelajaran Seni Rupa yang telah disusun.  Implementasi ini biasanya dilakukan oleh peneliti secara kolaboratif dengan guru atau dosen pengajar kelas Seni Rupa, agar ada yang melaksanakan pembelajaran dan ada yang melakukan pengamatan, walaupun guru atau dosen pelaksana pembelajaran sendiri juga harus melakukan pengamatan.  Pelaksanaan pembelajaran ini harus dilakukan secara sadar dalam upaya memecahkan masalah dan mengembangkan suatu strategi pembelajaran.   Dalam pelaksanaan pembelajaran ini guru atau dosen boleh saja melakukan modifikasi tindakan (mengubah rancangan) asal masih sesuai dengan (atau tidak pindah dari) strategi yang sedang dikembangkan.

4. Pengamatan

Pengamatan adalah  kegiatan pengumpulan data yang berkaitan dengan peristiwa pembelajaran Bahasa Ingris yang terkait dengan upaya pemecahan masalah dan strategi pembelajaran yang sedang dikembangkan. Yang diamati adalah peristiwa-peristiwa yang menjadi indikator keberhasilan (atau ketidak berhasilan) pemecahan masalah dan pengembangan strategi yang sedang dikembangkan. Criteria (indikator yang menjadi penanda) untuk menentukan bahwa strtagei yang dikembangkan telah berhasil memecahkan masalah yang sedang diupayakan pemecahannya seperti yang tertulis dalam tahap perencanaan harus menjadi fokus pengamatan.
Karena tahap pengamatan dalam PTK adalah seperti tahap pengumpulan data dalam penelitian selain PTK, maka dalam tahap ini harus disiapkan (dibahas) data yang (akan) dikumpulkan, instrumen pengumpulan data yang (akan) dipakai, sumber data yang (akan) digali, dan teknik pengumpulan data yang (akan) digunakan. Jadi dalam laporan hasil PTK, tidak ada lagi Pokok bahasan tentang Data, Instrumen Penelitian, Sumber Data, dan Teknik Pengumpulan data di luar ruang lingkup tahap pengamatan. Dengan kata lain pembahasan tentang data, instrumen pengumpul data, sumber data, dan teknik pengumpulan data harus terkait langsung dengan kegiatan pengamatan dalam setiap siklus sehingga tidak memberi kesan bahwa pengamatan adalah satu kegiatan sedangkan pengumpulan data adalah satu kegiatan lain (di luar pengamatan).

5. Data PTK

Data yang dikumpulkan dalam PTK berupa segala gejala atau peristiwa yang mengandung informasi yang berkaitan dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Data PTK ini bisa berupa data kuantitatif, seperti hasil tes dan data kualitatif, seperti kesulitan belajar siswa, suasana kelas, motivasi belajar siswa, kemudahan pelaksanaan strategi atau teknik yang sedang dikembangkan, kerjasama siswa dalam belajar, dan sebagainya. Karena data yang dikumpulkan meliputi data kuantitatif dan data kualitatif, penyebutan penggunaan pendekatan kualitatif tidak perlu dilakukan. Cukup saja dengan menyebutkan rancangan PTK dengan melibatkan data kualitatif dan data kuantitatif.

6. Instrumen PTK
Instrumen PTK adalah alat yang perlu dipersiapkan untuk kegiatan pengamatan. Alat ini disesuaikan dengan macam data yang akan dikumpulkan. Instrumen untuk mengumpulkan data tentang hasil belajar siswa bisa berupa tes, sedangkan instrumen untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan kesulitan belajar siswa, suasana kelas, motivasi belajar siswa, kemudahan pelaksanaan strategi atau teknik yang sedang dikembangkan, kerjasama siswa dalam belajar, dan sebagainya, peneliti harus berfungsi sebagai instrumen utama dilengkapi dengan pedoman pengamatan dan pedoman wawancara.

7. Sumber Data PTK
Sumber data PTK meliputi siswa yang menjadi sasaran tindakan, bisa seluruh siswa dalam kelas tersebut atau sampel siswa tertentu, suasana kelas yang diberi tindakan, ruang kelas yang bersangkutan, guru yang berkolaborasi dalam peleksanaan pembelajaran, dan orang tua siswa.

8. Teknik Pengumpulan Data PTK
Teknik pengumpulan data PTK  menyesuaikan data yang telah direncanakan untuk dikumpulkan dengan menggunakan instrumen yang telah dipersiapkan. Untuk data tentang hasil belajar bisa digunakan teknik tes, sedangkan untuk data kualitatif bisa digunakan teknik wawancara dan pengamatan.

9. Refleksi

Refleksi adalah kegiatan menganalisis hasil pengamatan untuk menentukan (1) sudah sejauh mana pengembangan strategi yang sedang dikembangkan telah berhasil memecahkan masalah dan apabila belum (sepenuhnya) berhasil, faktor apa saja yang menjadi penghambat kekurang berhasilan tersebut.  Seperti kegiatan pengamatan yang meliputi pembahasan tentang data, sumber data, instrumen pengumpulan data dan teknik pengumpulan data, kegiatan refleksi meliputi kegiatan analisis data.  Jadi pembahasan tentang analisis data penelitian harus terkait dengan atau menjadi bagian pembahasan dari kegiatan (atau sub pokok Bahasan) refleksi, sehingga tidak memberikan kesan seolah kegiatan refleksi dan analisis data adalah dua kegiatan terpisah.
Pada tahap refleksi ini, peneliti membandingkan hasil pengamatan dengan criteria keberhasilan yang telah ditetapkan pada tahap perencanaan. Misalnya Strategi Wisata akan dianggap berhasil membantu siswa belajar apresiasi Seni Rupa siswa apabila (1) siswa telah nampak senang belajar dengan Strategi Wisata,  (2) guru pelaksana pembelajaran merasa strategi ini praktis dan mudah, (3)  siswa telah nampak menjadi lebih aktif dan lebih kreatif dalam kegiatan proses pembelajaran, (4)  siswa telah nampak suka dan bisa bekerja sama dengan teman pada saat proses pembelajaran, (5) siswa nampak menjadi lebih perhatian terhadap objek wisata yang dilihat, dan (6) karangan siswa menunjukkan kualitas yang lebih baik.
Refleksi  bertujuan untuk menilai mana kriteria tersebut yang belum tercapai dan apa penyebab belum tercapainya kriteria tersebut. Kriteria yang belum tercapai tersebut serta faktor penyebabnya menjadi masukan pada siklus berikutnya.
Dengan demikian Perencanaan Kembali pada siklus II  berangkat dari masalah yang ditemukan pada siklus I (Kriteria yang belum berhasil dicapai dan faktor peng­hambatnya). Masalah ini dicarikan alternatif pemecahannya yang direncanakan akan diimplemantasikan pada siklus berikutnya. Pelaksanaan berikutnya akan diamati, dan direfleksi untuk menentukan apakah masih perlu ada siklus III. Demikian seterusnya  sehingga strategi pembelajaran yang sedang dikembangkan telah berhasil memecah­kan masalah yang sedang diupayakan pemecahannya.
Jumlah siklus PTK tidak boleh dibatasi (ditentukan) pada saat perencanaan, karena peneliti tidak mungkin sudah mengetahui berapa siklus pelaksanaan pembelajaran sudah akan bisa mencapai keberhasilan yang diinginkan. Setelah satu sikluspun, bila pembelajaran telah menghasilkan target pembelajaran, semua indikator keberhasilan telah nampak, PTK bisa dianggap selesai dan dilaporkan. Sebaliknya, setelah sepuluh sikluspun, bila pembelajaran belum menghasilkan target pembelajaran seperti yang telah direncanakan, belum semua indikator keberhasilan belajar Seni Rupa tercapai, maka PTK belum selesai dan siklus berikutnya masih harus dilakukan lagi.

10. Rumusan Masalah

Rumusan masalah penelitian harus menggambarkan tujuan akhir yang ingin dicapai dan metode penelitian yang akan digunakan. Dalam PTK tujuan utama adalah mengembangkan strategi atau teknik tertentu untuk memecahkan masalah (untuk tujuan pembelajaran) tertentu. Misalnya: Bagaimana penerapan pem­belajar­an kontektual dapat meningkatkan kreativitas siswa SMP 1 Padang? atau Bagaimana neningkatkan kreativitas dalam berkarya seni rupa SMP 1 Padang dengan  menggunakan strategi pembelajaran kontektual?

11. Tujuan Penelitian

Seperti pada setiap penelitian lainnya, PTK selain menyatakan rumusan masalahnya juga perlu menyatakan dengan jelas tujuan yang ingin dicapai. Tujuan penelitian selalu berisi sama dengan rumusan masalahnya. Pernyataan isi yang sama pada dua rumusan, rumusan masalah dan rumusan tujuan, ini menunjukkan betapa penting peran kejelasan tujuan penelitian. Penelitian yang diawali dengan tujuan yang tidak jelas, atau apalagi yang tidak tepat, akan menyebabkan gagalnya pelaksanaan penelitian tersebut.  Peneliti yang telah merumuskan tujuan penelitiannya dengan jelas berarti telah menyelesaikan 50% pekerjaan penelitiannya sebelum penelitiannya itu mulai dikerjakan. Pernyataan tujuan PTK selalu menggunakan kata kunci mengembangkan….. untuk meningkatkan ……..

 

12. Hasil PTK

Hasil PTK yang diformulasikan sebagai temuan atau kesimpulan penelitian berbeda dengan temuan atau kesimpulan penelitian yang bukan PTK.  Hasil, temuan atau kesimpulan PTK berupa strategi atau teknik yang telah berhasil dikembangkan ditambah dengan informasi tentang manfaat dari penggunaan strategi atau teknik yang telah dikembangkan tersebut.  Hasil, temuan, atau kesimpulan PTK harus menjawab pertanya­an PTK atau sejalan dengan tujuan PTK.
Rumusan kesimpulan seperti,  kemampuan apresiasi seni rupa  para siswa  meningkat”, “rerata kemampuan siswa lebih baik dari rerata kemampuan siswi”, “strategi Wisata terbukti effektif dalam meningkatkan kemampuan apresiasi seni rupa  siswa SLTP”, adalah salah karena tidak menjawab masalah atau tujuan PTK.
Sesuai dengan masalah atau tujuannya, PTK menghasilkan sebuah strategi atau teknik baru, sebuah strategi atau teknik yang tentunya belum dikembangkan oleh peneliti lain dalam konteks yang sama.  Hasil PTK berbeda dengan hasil penelitian eksperimental yang bukan mengembangkan atau tidak menghasilkan sebuah strategi atau teknik baru, tetapi membandingkan tingkat efektivitas beberapa teknik (biasanya dua teknik) yang sudah ada atau yang sudah dikembangkan oleh peneliti (lain).
Kesimpulan yang disampaikan oleh Suntari (2002) kurang menjelaskan strateginya sendiri yang telah berhasil dikembangkan, tetapi lebih banyak menjelaskan bahwa strategi yang diinginkan telah berhasil dikembangkan dan strategi itu telah berhasil mengembangkan kemampuan siswa.

F. PENUTUP
Beragam penelitian yang dapat dilakukan oleh guru, misalnya penelitian deskriptif, penelitian eksperimen, dan peneli­tian tindakan. Di antara jenis penelitian tersebut yang diutama­kan dan disarankan adalah penelitian tindakan. Dari namanya sendiri sudah dapat ditebak, bahwa dalam penelitian tindakan terdapat kata tindakan, artinya dalam hal ini guru melakukan sesuatu. Arah dan tujuan penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru sudah jelas, yaitu demi kepen­tingan peserta didik dalam memperoleh hasil belajar yang memuaskan (jadi bukanlah kepentingan guru).
Setiap guru yang ingin melakukan penelitian tindakan kelas perlu terlebih dahulu memahami secara jelas konsep-konsep penelitian tindakan kelas, sehingga memudahkan peneliti dalam pelaksanaan penelitian dan teramat penting adalah tidak terjadi kesalahan yang fatal pada hasil penelitian.  



DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi. 1991. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Hopkins, David. 1993. A. Teacher's Guide to Classroom Research. Second Edition. Philadelphia: Open University Press.

Kemmis, S & McTaggart, R. 1998. The Action Research Planner, Third Edition. Victoria: Deakin University.

Natawidjaya, Rochman. 1997. Konsep Dasar Penelitian Tindakan. Bandung: IKIP Bandung.

Nurhalim, K. 2000. Prosedur Pelaksanaan PTK. Makalah Disajikan pada Pelatihan Pengembangan Penelitian Tindakan Kelas bagi Tenaga Kependidikan Baik Dosen maupun Guru di Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Lemlit Universitas Negeri Semarang 10-19 Juli 2000.

Priyono, Andreas. 2000. Identifikasi dan Pemecahan Masalah dalam Classroom-Based Action Research. Makalah Disajikan pada Pelatihan Pengembangan Penelitian Tindakan Kelas bagi Tenaga Kependidikan Baik Dosen maupun Guru di Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Lemlit Universitas Negeri Semarang 10-19 Juli 2000.





BAHAN AJAR PENELITIAN TINDAKAN KELAS






Dr. Ramalis Hakim, M.Pd



PANITIA PENDIDIKAN DAN LATIHAN PROFESI GURU
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2009

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons