PENELITIAN dalam KAWASAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Ramalis Hakim
A. Pendahuluan
Dalam perjalanan studi seorang mahasiswa, apalagi mendekati berakhirnya perkuliahan tatap muka, sering diselimuti oleh berbagai pertanyaan, misalnya; penelitian apa yang akan saya lakukan? apa masalah yang akan saya teliti? bisakah masalah ini saya teliti untuk tesis saya? acc-kah pembimbing kalau judul ini saya ajukan? Banyak lagi variasi kalimat pertanyaan senada yang ada dalam pikiran mahasiswa. Akan tetapi, bagi seorang mahasiswa calon magister yang baik tentunya tidak akan berpikir terlambat tentang tugas akhirnya. Bahkan sebelum memutuskan untuk mengikuti perkulihan di jenjang pendidikkan magister, sudah muncul pertanyaan di atas dalam benaknya dan ada yang sudah mendapat jawaban dari pertanyaan tersebut.
Penulis dalam berbagai pertemuan perkuliahan, sering juga ditodong oleh berbagai pertanyaan dari mahasiswa yang kalimatnya tidak jauh berbeda dengan kalimat pertanyaan di atas. Dari pengalaman menerima dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mahasiswa tersebut dapat disimpulkan bahwa mahasiswa masih banyak yang ragu dalam menentukan pilihan tugas akhirnya terutama tentang jenis atau pendekatan penelitian yang dilakukan. Oleh karena yang bertanya itu adalah kebanyakan mahasiswa TP, maka tulisan ini mencoba memberikan gambaran tentang penelitian dalam kawasan teknologi pendidikan.
B. Batasan Teknologi Pendidikan
Penelitian dalam bidang apapun akan sangat dipengaruhi oleh paradigma yang digunakan tentang substansi yang diteliti. Dalam bidang teknologi pendidikan banyak pengertian yang mencakup keseluruhan aspek instruksional, mulai dari perencanaan, pengembangan pemanfaatan, pengelolaan, dan penilain. Pengertian tersebut mempenyaruhi cakupan penelitian dan pendekatan serta jenis penelitian, untuk itu pembahasan dalam makalah ini dimulai batasan tentang teknologi pendidikan, penelitian tentang teknologi pembelajaran, dan diakhiri dengan kriteria penentuan pendekatan dan penelitian tentanca teknologi pendidikan dalam konteks pradigma pendidikan yang baru.
Ada beberapa batasan yang dapat disampaikan (1): Tthe media born of the communication revolution which can be used for. Instructional purposes alongside the teacher, textbook, and blackboard The Commission of Instructional Technology dalam Ramsey & Dahl (1973) dan Gentry (1991). (2). it is defines as hardware-television, motion pictures, audiotapes and discs, texbooks, blackboards, and so on; essentially these are the implements and media of communication (Engler, 1972, dalarn Gentry, 1991). Dan (3) Instructional technology is made up of "the 'things of learning,' fhe devices and the materials which are used in the processes of learning and teaching (R.amsey & Dahl, 1973: vii).
Ketiga definisi ini sangat logis, apabila seseorang yang ingin meningkatkan keberhasilan pembelajaran yang diampunya akan cenderung memikirkan perubahan perangkat keras yang dimanfaatkan. Kemudian peneliti terkait akan cenderung berupaya menemukan seberapa besar efek pemanfaatan media tertentu terhadap pembelajaran seperti batasan nomor tiga di atas. Sedangkan batas lainb menjelaskan (1...it is defined as a process by means of which we apply the research findings of the behavioural sciences to the problems of instruction...... instructional technology is value free. (2)...the oi9anized design and implementtation of learning systems taking advantage of but not expecting miracles from modern communication methods, visual aids, classroom organization, and teaching methods.
Batasan di atas telah mencakup rancangan dan implementasinya dengan memanfaatkan metode komunikasi moderen, metode mengajar, dan pengaturan kelas serta alat bantu visual dalam upaya pemecahan masalah pembelajaran. Batasan ini jelas lebih luas daripada tiga yang pertama karena justru rancangan dan implementasi sistem belajar menjadi pokoknya dan perangkat keras dimanfaatkan. Sedangkan batasan yang lebih komprehensif tentang TP dapat dilihat dalam dua batasan, tetapi biasanya tidak populer; (1) ....involves the application of systems, techniques, and aids to improve the process of leaming. It is characterized by 4 features: (a) the definition of objectives to be achieved by the leamer, (b) the application of principles of learning to the analysis and structuring of the subject matter to be learned, (c) the selection and use of the appropriate media for presenting material, (d) the use of the appropriate methods of assessing student performance to evaluate the effectiveness of courses and materials. (2) a systematic way of designing, carrying out, and evaluating the total process of learning and teaching in terms of specific objectives, based on research in human leaming and communication and employing a combination of human and nonhuman resources to bring about more effective ihstruction.
Batasan di atas cukup jelas, yaitu ada unsur perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi yang dilakukan secara sistematik terhadap. keseluruhan proses pembelajaran ditinjau dari segi tujuan khusus dengan dilandasi penelitian dalam belajar dan komunikasi manusia dan memanfaatkan sumber daya manusia dan non-manusia, yang semuanya ditujukan untuk meningkatkan keberhasilan pembelajaran. Satu butir penting yang layak dicatat di sini adalah bahwa keseluruhan perancangan yang sistematik bersama pelaksanaan dan evaluasinya tersebut tidak adalah untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Dalam hal ini secara eksplisit dapat dipahami bahwa tujuan akhir dari TP adalah peningkatan efektivitas pembelajaran, sedangkan hal-hal lain hanyalah sebagai alat. Pengertian yang demikian jelas akan mempengaruhi cakupan dan pendekatan penelitian yang akan digunakan.
C. Kawasan TP berdasarkan definisi Teknologi pendidikan tahun 1994 :
1. Kawasan Desain
Kawasan desain disini adalah suatu proses untuk menentukan kondisi belajar dengan tujuan untuk menciptakan strategi dan produk. Kawasan desain bermula dari gerakan psikologi pendidikan yang dilakukan oleh beberapa tokoh psikologi pendidikan diantaranya melalui pemikiran adalah B.F. Skinner pada tahun 1954 dan juga Herbert Simon pada tahun1969. Pada awal 1970. Robert Gagne dan Leslie Briggs telah menggabungkan keahlian psikologi pendidikan dengan bakat dalam desain sistem yang membuat konsep desain pendidikan menjadi semakin hidup. Kawasan Desain memiliki empat spisikasi bidang meliputi: (a) Desain sistem Pendidikan, (b) Desain pesan, (c) Strategi pendidikan, (d) Karakteristik pembelajar.
2. Kawasan Pengembangan
Kawasan Pengembangan adalah proses penterjemahan spesifikasi desain ke dalam bentuk fisik, kawasan pengembangan berakar pada produksi media di dalamnya meliputi: (a) teknologi cetak, (b) teknologi audio-visual, (c) teknologi berbasis komputer; dan (d) teknologi terpadu. Di dalam kawasan pengembangan terdapat keterkaitan yang kompleks antara teknologi dan teori yang mendorong terhadap desain pesan maupun strategi pendidikannya . Pada dasarnya kawasan pengembangan terjadi karena: (a) Pesan dalam pendidikan memiliki isi (content), (b) Strategi pendidikan yang berlandasakan pada teori, (d) Manifestasi media pembelajaran dari teknologi perangkat keras, perangkat lunak, dan bahan pendidikan
3. Kawasan Pemanfaatan
Kawasan Pemanfaatan adalah aktivitas menggunakan proses dan sumber untuk belajar. Fungsi pemanfaatan sangat penting karena membicarakan kaitan antara pembelajar dengan bahan atau sistem pendidikan. Mereka yang terlibat dalam pemanfaatan mempunyai tanggung jawab untuk mencocokkan pembelajar dengan bahan dan aktivitas yang spesifik, menyiapkan pembelajar agar dapat berinteraksi dengan bahan dan aktivitas yang dipilih, memberikan bimbingan selama kegiatan, memberikan penilaian atas hasil yang dicapai pembelajar, serta memasukannya ke dalam prosedur oragnisasi yang berkelanjutan. Bidang dari kawasan ini meliputi : (a) Pemanfaatan media, (b) Difusi inovasi, (c) Implementasi dan institusionalisasi, (d) Kebijakan dan regulasi
4. Kawasan Pengelolaan
Pengelolaan adalah pengendalian Teknologi Pendidikan melalui: perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian dan supervisi. Kawasan pengelolaan bermula dari administrasi pusat media, program media dan pelayanan media.Pembauran perpustakaan dengan program media membuahkan pusat dan ahli media sekolah. Program-program media sekolah ini menggabungkan bahan cetak dan non cetak sehingga timbul peningkatan penggunaan sumber-sumber teknologikal dalam kurikulum. Kawasan pengelolaan dibagi dalam beberapa acuan bidang: (a) Pengelolaan Proyek, (b) Pengelolaan Sumber, (c) Pengelolaan Sistem Penyampaian, (d) Pengelolaan Informasi.
5. Kawasan Penilaian
Kawasan Penilaian merupakan proses penentuan memadai tidaknya pendidikan dan belajar, mencakup : (1) analisis masalah; (2) pengukuran acuan patokan; (3) penilaian formatif; dan (4) penilaian sumatif. Dalam kawasan penilaian dibedakan pengertian antara penilaian program, proyek, produk. Penilaian program evaluasi yang menaksir kegiatan pendidikan yang memberikan pelayanan secara berkesinambungan dan sering terlibat dalam penyusunan kurikulum. Sebagai contoh misalnya penilaian untuk program membaca dalam suatu wilayah persekolahan, program pendidikan khusus dari pemerintah daerah, atau suatu program pendidikan berkelanjutan dari suatu universitas.
D. Penelitian dalam Kawasan TP
Untuk dapat memahami hal ikhwal penelitian dalam TP ada baiknya dilihat status penelitian TP pada masa lalu, khususnya yang ditulis oleh Hannafin (1985), seperti disitir oleh Hannafin dan Hannafin, 1991). menemukan bahwa ada tiga faktor utama yang mempengaruhi perkembangan penelitian TP sebelum tahun 1985: tradisi penelitian ilmu behavioural, identitas penelitian yang nirfokus, dan sikap bidang ini terhadap penelitian.
Tradisi dan standar penelitian yang telah dikembangkan dalam sains behavioural yang melingkupi pelaksanaan penelitian bidang ilmu telah diterapkan dalam penelitian TP karena bidang TP pada hakikatnya berakar pada sains behavioural. Ukuran yang dipakai adalah yang berlaku dalam penelitian eksperimental. Dapat dikatakan bahwa bidang TP belum memiliki identitas intelektua! tersendiri. Akibatnya, jumlah penelitian yang khas TP makin menurun. Identitas inteiektual khas TP tidak muncul meskipun dasar teoretis kuat dapat dibangun dari psikologi. Bidang TP masih tetap didominasi oleh penelitian eksperimental, meskipun sudah ada tawaran paradigma-paradigma lain. Misalnya, Driscoll (1984), seperti disitir oleh Hannafin & Hannafi (1991) menawarkan 13 model penelitian TP, termasuk model etnografi, penclembangan teknik, dan efektivitas-biaya. Begitu kuatnya pengaruh dari tradisi sains behavioural, bidang TP menjadi makin dibentuk oleh R&D yang dihasilkan oleh peneliti di luar bidang ini.
Hal tersebut menyebabkan melemahnya identitas intelektual bidang TP. Tidak banyak yang ditulis tentang tema-tema khas TP. Seperti disitir Hannafin dan Haanafin (1991) dari Sach (1984), hanya sedikit sekali tema-tema khas TP yang ditemukan dalam literatur, dan relatif sedikit jumiah pakar TP. Bahkan di antara pakar-pakar yang telah diidnetifikasi, beberapa sebenarnya pakar psikologi yang memiliki minat kuat terhadap TP, meskipun bukan minat utama ataupun eksklusif, misalnya David Ausubel, Rodert Gagne, clan Jeremy Bruner. Dari tinjauan pustakanya, Sach menyimpulkan bahwa para pakar jarang menyitir karya pakar IT sebelumnya. Beberapa peneliti menggunakan karya dengan kerangka berpikir mereka sendiri; pengarang sering menerbitkan secara terpisah dari penelitian yang ada. Jadi identitas intelektual TP saat itu masih sangat lemah.
Sampai tahun 1985 para akadernisi TP dapat dikatakan sebagai pemakai dari pada pelaku penelitian karen berbagai alasan. Kurangnya penelitian TP meru¬pakan akibat dari ketidakpedulian atau kekurangpahaman terhadap metode yang ada, tuntutan kompetitif, atau karena tidak bermanat dalam penelitian. Apa¬pun alasannya, yang jelas baru sedikit pakar TP yang melakukan penelitian. Bebe¬rapa faktor telah memberikan andil pada keadaan ini. Faktor-faktor tersebut termasuk: kurangnya dukungan lembaga, besarnya beban mengajar, dan tuntutan layanan untuk program TP tidak proporsional terhadap program akademik lainnya. Faktor lainnya adalah kurangnya keahlian dalam merencanakan dan menerbitkan R&D yang asli.
Kawasan teknologi pendidikan meliputi teori dan praktik dalam merancang, mengembangkan, memanfaatkan, mengelola dan menilai proses, sumber dan sistem belajar. Pemecahan masalah belajar secara empirik dapat dilakukan dengan berbagai cara, strategi dan prosedur.
Kawasan penelitian teknologi pendidikan sangat luas sekali bahkan boleh dikatakan hampir tidak terbatas, sepanjang penelitian itu berkaitan dengan pemecahan masalah belajar. Dasar pertimbangan kesimpulan ini adalah sebagai berikut: (Miarso, 2007:204) (1) Belajar dapat dilakukan oleh siapa saja, baik secara perorangan (individu) maupun secara kelompok, (2) Belajar dapat dilakukan mengenai apa saja, meskipun yang menjadi perhatian utama kita adalah yang bertujuan, terarah, dan disengaja serta yang sesuai dengan norma dan nilai dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, (3) Belajar dapat berlangsung kapan saja, sejak dalam kandungan hingga akhir hayat. (4) Belajar dapat dilaksanakan dimana saja, di sekolah, di rumah, di tempat kerja, di tempat ibadah, di masyarakat luas. (5) Belajar dapat berlangsung dengan cara bagaimana saja (aneka proses), baik dilakukan secara individu maupun secara massal. (6) Belajar dapat dilakukan dengan rangsangan internal dan eksternal, yaitu dari dalam diri sendiri atau dari apa dan siapa saja di luar diri (aneka sumber). (7) Belajar dapat dilakukan untuk kepentingan apa saja, tentunya yang bermanfaat untuk diri sendiri dan lingkungannya.
E. Penelitian Pengembangan dalam Kawasan TP
1. Teori yang mempengaruhi domain pengembangan
Orang yang bergerak dalam bidang pembelajaran audiovisual menyadari bahwa usaha mereka ditujukan untuk mengkomunikasikan ide-ide melalui perangkat baru yang telah lama digunakan oleh para pendidik. Para teknolog pembelajaran menemukan penjelasan yang tepat tentang apa yang sedang mereka kerjakan dengan teori Shannon dan Weaver. Shannon dan Weaver menjelaskan tentang proses penyampaian pesan dari pengirim kepada penerima dengan menggunakan sarana sensorik.
Versi yang lebih populer dari model ini dapat ditemukan pada Berlo (1960) yang menekankan fakta bahwa sesungguhnya oranglah (bukan media) yang merupakan jantung proses komunikasi. Model ini menguraikan hubungan yang sirkuler antara pengirim, pesan, saluran, dan penerima. Schram yang bergerak dalam bidang komnikasi massa juga menerapkan karya Shannon dan Weaver untuk audiens yang lebih besar dan menekankan pada aspek perilaku manusia dalam komunikasi.
Pada saat ini, para teknolog pembelajaran terus menggali gagasan baru dari McLuhan, dengan harapan gagasan tersebut mungkin akan memberi penjelasan beberapa keanehan dalam bidang komunikasi massa karena bidang komunikasi massa dan teknologi pembelajaran menggunakan media sang sama, konsep komunikasi massa masih tetap dalam cakupan teknologi pembelajaran. Sebagai contoh, penelitian tentang pengaruh televisi berasal dari dua bidang, yakni televisi pembelajaran dan media massa. Contoh penelitian pada level mikro yang telah mempengaruhi perancangan teks dan teknik pengembangan materi pembelajaran dengan menggunakan teknologi, adalah perancangan perancangan layar komputer.
Kawasan pengembangan juga telah dipengaruhi oleh gerakan literasi visual melalui penerapan teori berfikir visual, belajar visual dan komunikasi visual. Hcinich, Molenda, dan Russell (1993) mendefinisikan literasi visual sebagai kemampuan yang dipelajari untuk menerjemahkan pesan visual dalam membuat pesan visual. Asumisi yang mendasari literasi visual adalah bahwa bahasa visual itu ada yaitu bahwa orang berfikir dan belajar secara visual, dan orang dapat menyatakan dirinya secara visual Teori berfikir visual sangat berguna dalam pengembangan materi pembelajaran terutama dalam mencari ide untuk perlakuan visual.
Berfikir visual merupakan reaksi internal. Berfikir visual itu meliputi manipulasi bayangan mental dan asosiasi sensori dan emosi daripada tahap berpikir yang lain. Berfikir visual sebagai pikiran kiasan dan dibawah sadar. Berpikir visual menuntut kemampuan mengorganisasi bayangan sekitar unsur garis, bentuk, warna, tekstur atau komposisi. Unsur-unsur visual digunakan untuk membuat penyataan visual vang memberikan dampak besar terhadap proses belajar orang pada semua usia Aplikasi teori belajar visual berfokus pada perancangan visual yang merupakan bagian penting dalam berbagai tipe pembelajaran yang menggunakan media. Dalam hal ini, prinsip-prinsip estetika juga merupakan dasar proses pengembangan. Heinich, Molenda, dan Russel (1993) mengidentifikasi unsur kunci seni yang digunakan dalam perancangan visual (pengaturan, keseimbangan, dan kesatuan). Kecuali itu masih banyak lagi daftar unsur dan prinsip perancangan visual yang lain. Prinsip komunikasi visual juga memberi arah yang mendasar dalam pengembangan materi pembelajaran. Prinsip-prinsip ini digunakan sebagai panduan dalam merancang dan mengedit grafik.
2. Penelitian yang Mempengaruhi Domain Pengembangan.
Ada empat bidang kegiatan dalam sub domain pengembangan, yaitu teknologi cetak, teknologi audiovisual, teknologi komputer, dan teknologi terpadu. Masing-masing sub domian, proses dan prosedur produksi juga telah mengalami perkembangan. Pada era perkembangan teknologi komputer, teknik-teknik baru muncul akibat dari hasil penelitian pengembangan dan kreativitas pemakai. Teknik pemrograman mulai banyak diaplikasikan pada berbagai hal. Sering kali sekumpulan pengetahuan tentang hal itu dikombinasikan dengan teori-teori yang bersifat lebih umum.
Pengembangan program belajar jarak jauh mungkin memerlukan prinsip-prinsip komunikasi umum, prinsip-prinsip desain grafis, prinsip-prinsip belajar interalaif, dan teknik elektronik canggih. Termasuk dalam hal ini adalah proses pengembangan pembelajaran dengan multi media atau media terpadu yang menggabungkan prinsip audio dan video, prinsip penyusunan berbasis komputer, prinsip desain grafis, dan prinsip desain pembelajaran. Sebagian besar prinsip-prinsip yang mengacu pada teknologi yang lebih baru berakar dari penelitian dan teori terdahulu yang banyak terkait dengan teknologi audiovisual.
Pada saat terjadi kelangkaan kerangka teoritis yang jelas mengenai penelitian media, peranan media pembelajaran telah menjadi hal yang sangat penting di bidang ini. Seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa bertahun-tahun para peneliti telah melakukan sejumlah eksperimen yang dikenal sebagai studi perbandingm media yang mencoba mendemontrasikan efektivitas suatu media dibandingkan dengan media yang lain, atau tentang efektivitas pembelajaran dengan menggunakan media dibandingkan dengan pembelajaran yang non media. Penelitian tersebut telah memacu perbaikan-perbaikan dalam proses pemilihan media, termasuk validitas penggunaan teknologi yang ada sekarang.
Penelitian pengembangan terbaru sudah lebih inovatif dan banyak mengarah pada pemanfaatan multi media bersama IT yang sangat canggih.
F. Kesimpulan
Sesungguhnya penelitian pengembangan merupakan salah satu pilihan yang tepat untuk penyelesaian studi bagi mahasiswa TP. Oleh karena, inovasi pembelajaran terbuka lebar melalui pemamfaatan teknologi Di samping itu, penelitian yang berada dalam kawasan TP merupakan tuntutan professional lulusan TP. Tidak mungkin kiranya, para mahasiswa TP melalukan penelitian di luar kawasan TP itu sendiri.
G. Daftar Rujukan



04.48
Ramalis hakim
0 komentar:
Posting Komentar